Cerita pendek yang berlatar belakang pramuka sangat jarang ditemui. Dalam setahun belakangan ini Majalah Media Pramuka memberikan ruang untuk itu dan memuat karya-karya Cerita Pendek kemudian merangkumnya dalam sebuah Buku Kumpulan cerita Pendek " Seikat Lidi Untuk Negeri " Karya Raff . Buku ini di jual secara Online melalui nulisbuku.com. Bagi kakak/adik yang berminat memiliki memberikan apresiasi terhadap buku tersebut silahkan dapat membeli langsung di http://nulisbuku.com/books/view_book/4594/seikat-lidi-untuk-negeri. Untuk membeli, klik tombol ADD TO CART. Di Halaman Shopping Cart, Anda dapat mengedit jumlah buku yang hendak dibeli (Setelah mengedit, klik "UPDATE") atau mengeluarkan buku dari shopping klik TAKE OUT. Untuk lanjut berbelanja, klik tombol CONTINUE SHOPPING Klik tombol CHECKOUT jika anda sudah selesai berbelanja. Isi keterangan di kolom notes: Nama penerima, Alamat lengkap tujuan (Beserta kodepos), No HP penerima. Klik DEALS jika sudah selesai
Atau jika kesulitan dapat mengirimkan Nama penerima, Alamat lengkap tujuan (Beserta kodepos), No HP ke 085797414938. Proses pengiriman pesanan membutuhkan waktu kurang-lebih 10 hari kerja (Sabtu, Minggu dan hari besar tidak termasuk). Harga Rp.35.000 ( belum termasuk Ongkir ) Terimakasih untuk dukungannya. Salam Pramuka !!
Rabu, 10 Juli 2013
Selasa, 09 Juli 2013
Seikat Lidi Untuk Negeri
“ Sebagaimana lidi yang dengan pasrah rnenerima
dirinya diikat, Disatukan. Kita juga harus bersedia dan rela diikat oleh aturan
“
Seikat Lidi Untuk Negeri adalah sebuah Cerita Pendek remaja sederhana
tentang nasionalisme sederhana. Kehidupan manusia dapat berjalan baik,
sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia bersatu dan mempererat ikatannya.
Rintangan sebesar apapun akan mampu ditaklukannya. Seikat sapu lidi ini adalah
gambaran dari bentuk persatuan. Sebuah 'sentuhan ringan' untuk kondisi Indonesia yang saat ini sedang terjebak dalam fanatisme daerah, kelompok dan organisasi hingga melupakan jati diri bangsa sebagai suatu kesatuan yang utuh dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika.
Selain itu dalam Buku Kumpulan Cerpen ini juga memuat sisi Pramuka sebagai remaja dengan segala dinamikanya. Meski sudah tak remaja lagi, pengarang mencoba memasuki dunia mereka lengkap dengan cerita khas remaja, gaya dan bahasa mereka yang renyah dan ringan.***
Selasa, 08 Januari 2013
Kamis, 09 Agustus 2012
Karya Bhakti Pramuka di Operasi Ketupat 2012
Berdasarkan
hasil rapat koodinasi lintas sektoral kesiapan Operasi Ketupat Lodaya 2012 di
Aula Januraga Mapolres Kuningan pada Selasa 26 Juli yang lalu Polres Kuningan Anggota
Gerakan Pramuka Satuan Karya Bhayangkara siap mensukseskan Operasi Ketupat Lodaya
2012.
“ Kami Polres
Kuningan bersama seluruh stake holders tidak hanya bakal menjaga ketertiban
lalu lintas semata melainkan juga kondusifitas daerah dari gangguan tindak
kriminalitas,” ujar Kapolres Kuningan AKBP Wahyu Bintono Hari Bawoni, SIK
“ Selain itu
juga dibeberapa titik rawan kemacetan, kami akan mendirikan pos-pos pengamanan
seperti di Bandorasa, pasar Cilimus, Pasar Ciawigebang dan Jalan Siliwangi, Polres akan
menginstruksikan Polantas di Polsek setempat dan meminta bantuan kepada TNI,
Satpan, Pol PP, Poljar ( Polisi Pelajar ), PKS, dan Pramuka Saka Bhayangkara
untuk mengatur laju lalu lintas didaerahnya” ujar beliau lagi.
Direncanakan,
pada H-10 upacara pembukaan Operasi Ketupat Lodaya 2012 digelar , dan
pelaksanaaannya dimulai pada H-7 ( 10 Agustus 2012 ) hingga H+7 ( 26 Agustus 2012 )
Keikutsertaan
Anggota Gerakan Pramuka Saka Bhayangkara dalam Operasi Ketupat Lodaya 2012 ini
sesuai dengan himbauan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka melalui suratnya nomor
0719 tentang Karya Bhakti Lebaran 1433 H. Dalam surat tersebut dikatakan bahwa membantu kelancaran arus mudik bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan
POLRI, tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat, termasuk anggota
Gerakan Pramuka. Kwarnas menghimbau kepada seluruh Anggota Gerakan Pramuka
untuk ikut serta bergabung dengan Posko-Posko mudik diwilayah masing-masing dan
terlibat dalam kegiatan Posko dengan mengikutsertakan anggota Gudep dan Saka.
Kegiatan Karya
Bhakti Lebaran 1433 H dilaksanakan guna membantu memberikan informasi
kelancaran arus mudik kepada pemudik baik yang menggunakan kendaraan maupun
para pengguna jalan khususnya dijalur-jalur padat arus mudik dan membantu
pemudik baik perorangan maupun massal yang melaksanakan mudik di stasiun,
terminal dan tempat umum lainnya dengan berkoordinasi dengan pemerintah atau
instansi di wilayah setempat.
Satuan
Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara yang akan terjun langsung pada kegiatan ini adalah
wadah kegiatan kebhayangkaraan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), guna
menumbuhkan kesadaran berperan serta dalam pembangunan nasional. Bhayangkara
sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu penolong ataupun pelindung. Nama
Bhayangkara juga digunakan pada zaman majapahit sebah pasukan khusus pengawal
raja yang dipimpin oleh Gajah Mada.
Tujuan dibentuknya Saka Bhayangkara adalah untuk mewujudkan kader-kader bangsa yang ikut serta bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pendidikan kebhayangkaraan di dalam Gerakan Pramuka.
Kegiatan kesakaan dilaksanakan di gugusdepan dan satuan karya Pramuka disesuaikan dengan usia dan kemampuan jasmani dan rohani peserta didik. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan sedapat-dapatnya dengan praktek berupa kegiatan nyata yang memberi kesempatan peserta didik untuk menerapkan sendiri pengetahuan dan kecakapannya dengan menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan keperluannya.
Saka Bhayangkara meliputi 4 (empat) krida, yaitu :
1. Krida Ketertiban Masyarakat
2. Krida Lalu Lintas
3. Krida Pencegahan dan Penaggulangan Bencana
4. Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPKP)
Tujuan dibentuknya Saka Bhayangkara adalah untuk mewujudkan kader-kader bangsa yang ikut serta bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pendidikan kebhayangkaraan di dalam Gerakan Pramuka.
Kegiatan kesakaan dilaksanakan di gugusdepan dan satuan karya Pramuka disesuaikan dengan usia dan kemampuan jasmani dan rohani peserta didik. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan sedapat-dapatnya dengan praktek berupa kegiatan nyata yang memberi kesempatan peserta didik untuk menerapkan sendiri pengetahuan dan kecakapannya dengan menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan keperluannya.
Saka Bhayangkara meliputi 4 (empat) krida, yaitu :
1. Krida Ketertiban Masyarakat
2. Krida Lalu Lintas
3. Krida Pencegahan dan Penaggulangan Bencana
4. Krida Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara (TPKP)
Hasil yang diharapkan dibentuknya Saka Bhayangkara adalah agar para
aanggota Gerakan Pramuka :
1. Memiliki pengetahuan, kemampuan, kecakapan, dan keterampilan serta pengalaman dalam bidang kebhayangkaraan.
2. Memiliki sikap hidup yang tertib dan disiplin serta ketaatan terhadap peraturan hokum dan norma social yang berlaku dalam masyarakat
3. Memiliki sikap, kebiasaan dan perilaku yang tangguh sehingga mampu mencegah, menangkal serta menanggulangi timbulnya setiap kejadian kamtibmas.
4. Memiliki kepekaan dan kewaspadaan serta daya tanggap dan penyesuaian terhadap setiap perubahan dan dinamika social di lingkungannya.
5. Mamou memberikan latihan tentang pengetahuan kamtibmas kepada para anggota Gerakan Pramuka di Gugusdepannya.
6. Mampu menyelenggarakan pengamanan lingkungan serta secara swakarsa, swadaya dan swasembada, serta secara nyata yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat lingkungannya.
7. Mampu melakukan tindakan pertama terhadap kasus kejahatan tertangkap tangan yang terjadi di lingkungannya untuk kemudian segera menyerahkan kepada Polri.
8. Mampu membantu Polri dalam pengamanan TKP dan melaporkan kejadian tersebut serta bersedia menjadi saksi.
1. Memiliki pengetahuan, kemampuan, kecakapan, dan keterampilan serta pengalaman dalam bidang kebhayangkaraan.
2. Memiliki sikap hidup yang tertib dan disiplin serta ketaatan terhadap peraturan hokum dan norma social yang berlaku dalam masyarakat
3. Memiliki sikap, kebiasaan dan perilaku yang tangguh sehingga mampu mencegah, menangkal serta menanggulangi timbulnya setiap kejadian kamtibmas.
4. Memiliki kepekaan dan kewaspadaan serta daya tanggap dan penyesuaian terhadap setiap perubahan dan dinamika social di lingkungannya.
5. Mamou memberikan latihan tentang pengetahuan kamtibmas kepada para anggota Gerakan Pramuka di Gugusdepannya.
6. Mampu menyelenggarakan pengamanan lingkungan serta secara swakarsa, swadaya dan swasembada, serta secara nyata yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat lingkungannya.
7. Mampu melakukan tindakan pertama terhadap kasus kejahatan tertangkap tangan yang terjadi di lingkungannya untuk kemudian segera menyerahkan kepada Polri.
8. Mampu membantu Polri dalam pengamanan TKP dan melaporkan kejadian tersebut serta bersedia menjadi saksi.
Yang
lebih berperan penting pada Operasi Ketupat Lodaya 2012 ini adalah anggota
Satuan Karya Bhayangkara Krida Lalu Lintas yang telah disiapkan disetiap Polsek
yang berada di wilayah Kwartir Cabang Kuningan.
Sementara itu, Ketua Dewan
Saka Bhayangkara Polsek Ciawigebang Ahmad Maulana Ihsan mengatakan bahwa,
tempat Operasi ketupat Lodaya 2012 Polsek Ciawigebang dipusatkan di pertigaan /
bundaran terminal Ciawigebang. Mereka akan membantu arus mudik di sekitar Pasar Ciputat dan mengendalikan
lalulintas yang bertujuan dari Jalaksana – Ciawigebang, Kuningan-Ciawigebang ,
dan Kuningan – Jawa Tengah.
Saka Bhayangkara
Ciawigebang akan menurunkan 25 orang personilnya dibantu oleh Anggota Dewan
Kerja Ranting Kwartir Ranting Ciawigebang.
Mereka akan dibagi dua
shift yaitu pagi mulai dari pukul 07.00 – 12.00 dan shift siang mulai pukul 12.00 s.d 17.00. Setiap shift terdiri
dari 12-13 orang personil yang akan menempati titik rawan padat lalu lintas.
Semoga kegiatan Karya
Bhakti Lebaran 1433 H melalui Operasi Ketupat Lodaya 2012 ini mampu mencitrakan
Gerakan Pramuka ke arah yang lebih positif, bahwa Kegiatan-kegiatan Pramuka
penegak lebih mengedepakan pada pengabdian masyarakat.***Raff
MENELUSURI JEJAK SEJARAH KERATON KACIREBONAN
Keraton Kecirebonan dibangun pada tanggal 1800 M, Keraton
ini banyak menyimpan benda-benda peninggalan sejarah seperti keris, wayang, perlengkapan perang,gamelan dan lain-lain. Seperti halnya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, Keraton Kecirebonan pun tetap
menjaga, melestarikan serta melaksanakan kebiasaan dan upacara adat seperti Upacara Panjang Jimat dan
sebagainya.
Keraton Kacirebonan berada di wilayah kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 km sebelah barat daya dari Keraton kasepuhan dan kurang lebih 500 meter sebelah selatan Keraton Kanoman. Keraton Kacerbonan merupakan pamekaran dari Keraton Kanoman setelah Sultan Anom IV yakni PR Muhammad Khaerudin wafat, Putra Mahkota yang seharusnya menggantikan tahta diasingkan oleh Belanda ke Ambon karena dianggap sebagai pembangkang dan membrontak. Ketika kembali dari pengasingan tahta sudah diduduki oleh PR Abu Sholeh Imammudin . Atas dasar kesepakatan keluarga, akhirnya PR Anom Madenda membangun Istana Kacerbonan, kemudian muncullah Sultan Carbon I sebagai Sultan Kacirebonan pertama.
Kedudukan Cirebon yang berada pada bayang-bayang pengaruh Mataram. Ketika Amangkurat I berkuasa dari tahun 1646 hingga 1677. Masa pemerintahan yang ditandai dengan banyaknya pergolakan agaknya menjadi faktor penting mengapa Cirebon semakin menjadi lemah. Pada zaman Amangkurat I, penguasa Cirebon Panembahan Ratu II, cucu Panembahan Ratu, atas permintaan Mataram berpindah ke Girilaya. Kepergiannya dari Keraton Cirebon ke daerah dekat ibukota Mataram ini disertai oleh kedua puteranya, yakni Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya. Sebagai pengganti kedudukannya selaku Sultan Cirebon, ditunjuk puteranya yang paling bungsu, yaitu Pangeran Wangsakarta.
Keraton Kacirebonan berada di wilayah kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 km sebelah barat daya dari Keraton kasepuhan dan kurang lebih 500 meter sebelah selatan Keraton Kanoman. Keraton Kacerbonan merupakan pamekaran dari Keraton Kanoman setelah Sultan Anom IV yakni PR Muhammad Khaerudin wafat, Putra Mahkota yang seharusnya menggantikan tahta diasingkan oleh Belanda ke Ambon karena dianggap sebagai pembangkang dan membrontak. Ketika kembali dari pengasingan tahta sudah diduduki oleh PR Abu Sholeh Imammudin . Atas dasar kesepakatan keluarga, akhirnya PR Anom Madenda membangun Istana Kacerbonan, kemudian muncullah Sultan Carbon I sebagai Sultan Kacirebonan pertama.
Kedudukan Cirebon yang berada pada bayang-bayang pengaruh Mataram. Ketika Amangkurat I berkuasa dari tahun 1646 hingga 1677. Masa pemerintahan yang ditandai dengan banyaknya pergolakan agaknya menjadi faktor penting mengapa Cirebon semakin menjadi lemah. Pada zaman Amangkurat I, penguasa Cirebon Panembahan Ratu II, cucu Panembahan Ratu, atas permintaan Mataram berpindah ke Girilaya. Kepergiannya dari Keraton Cirebon ke daerah dekat ibukota Mataram ini disertai oleh kedua puteranya, yakni Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya. Sebagai pengganti kedudukannya selaku Sultan Cirebon, ditunjuk puteranya yang paling bungsu, yaitu Pangeran Wangsakarta.
Panembahan Ratu wafat pada tahun
1662 Masehi. Sebelum meninggal beliau membagi kerajaannya menjadi dua yang
diwariskan kepada kedua puteranya itu. Pangeran Martawijaya diangkat sebagai
Panembahan Sepuh yang berkuasa atas Kasepuhan. Sedangkan Kertawijaya ditunjuk
sebagai Panembahan Anom yang berkuasa atas Kanoman.
Sementara itu, Raja Amangkurat I yang kurang bijaksana menimbulkan kebencian di kalangan istana dan penguasa-penguasa daerah yang lain. Dengan didukung oleh seorang pangeran dari Madura bernama Tarunajaya, sang putera mahkota mengadakan pemberontakan. Sayangnya, usaha mereka menentang Amangkurat I tidak berhasil karena perpecahan antara keduanya.
Raja Amangkurat I kemudian meninggal di Tegalwangi setelah melarikan diri dari ibukota Mataram. Dalam pertempuran tersebut, kedua pangeran dari Cirebon itu memihak pada pihak pemberontak. Kira-kira tahun 1678 Masehi, kedua bangsawan pewaris tahta Cirebon kembali ke tanah kelahirannya. Dengan demikian kini di Cirebon berkuasa tiga sultan, masing-masing Sultan Sepuh, Sultan Anom dan Sultan Cerbon.
Sementara itu, Raja Amangkurat I yang kurang bijaksana menimbulkan kebencian di kalangan istana dan penguasa-penguasa daerah yang lain. Dengan didukung oleh seorang pangeran dari Madura bernama Tarunajaya, sang putera mahkota mengadakan pemberontakan. Sayangnya, usaha mereka menentang Amangkurat I tidak berhasil karena perpecahan antara keduanya.
Raja Amangkurat I kemudian meninggal di Tegalwangi setelah melarikan diri dari ibukota Mataram. Dalam pertempuran tersebut, kedua pangeran dari Cirebon itu memihak pada pihak pemberontak. Kira-kira tahun 1678 Masehi, kedua bangsawan pewaris tahta Cirebon kembali ke tanah kelahirannya. Dengan demikian kini di Cirebon berkuasa tiga sultan, masing-masing Sultan Sepuh, Sultan Anom dan Sultan Cerbon.
Sementara itu di Mataram sebagai
akibat dari pemberontakan Tarunajaya, bertumpuklah
hutang yang harus dibayarkan kepada pihak VOC / Belanda yang membantu Amangkurat I. Pihak Mataram membayar hutangnya itu dengan cara melepaskan
pelabuhan-pelabuhan potensial beserta penghasilan yang amat menguntungkan itu
kepada VOC.
Akibatnya lebih lanjut adalah
penghapusan gelar Sultan dari penguasa Cirebon pada tahun 1681 Masehi. Sebagai
gantinya, raja-raja Cirebon kembali pada gelar Panembahan yang sesungguhnya lebih rendah dari Sultan.
Pengganti Sultan Anom adalah putera
bungsu. Sedangkan di Kasepuhan terjadi pembagian kekuasaan anatara Sultan Sepuh
dan Sultan Cirebon. Ketika Pangeran Cirebon dibuang karena melawan Belanda,
daerah kekuasaan nya diberikan kembali kepada Sultan Sepuh. Kemunduran
Kesultanan Cirebon semakin meningkat sejak tahun 1773 Masehi. Setelah
Panembahan terakhir wafat tanpa mewarisi keturunan, daerahnya kemudian menjadi
terbagi-bagi dan dikuasai oleh para pangeran.
Mulai abad ke 19 setelah perjanjian
Wina, kedudukan politik Kasepuhan maupun Kanoman benar-benar dihapuskan,
sebagai gantinya mereka mendapat subsidi dari pemerintah kolonial Belanda.
Sejak itu bangsawan Cirebon hanya
dikenal sebagi pelindung kesenian tradisional Cirebon. Maka tidak mengherankan
apabila seni batik,
seni ukir, seni tari,
seni topeng,
tetap lestari dan berkembang pesat.
Demikian sekilas tentang sejarah
Sultan Kacirebonan Yang disampaikan Oleh salah seorang Elang ( gelar
Kebangsawanan ) di keraton tersebut. Pemaparan sejarah ini adalah acara pembuka
pada kegiatan Pekan Kebudayaan Ramadhan Keraton Kacirebonan 1433. H.
Sambil menyusuri bangunan Keraton
Kacirebonan yang tidak termasuk tipologi arsitektural bangunan keraton,
dimana bentuk bangunannya seperti bangunan pembesar pada zaman kolonial Belanda
dengan pengaruh arsitektur Eropa yang kuat 90 orang peserta kegiatan yang terdiri dari
Kontingen Kwarcab Kuningan, Kwarcab Cirebon dan Cirebon Kota, Kwarcab
Majalengkadan Kwarcab Indramayu berkumpul bersama untuk saling berbagi
pengalaman sambil menggali pengetahuan tentang budaya di Keraton Kacirebonan.
Ka Asep S. Trimatra salah seorang
panitia menjelaskan bahwa Gerakan Kepanduan berawal dari Keraton dimana Sultan
Hamengkubuwono IX sebagai Bapak Pandu
Indonesia mengawali kebangiktan Gerakan Pramuka di Keraton Ngayogyakarta.
Di Indonesia, gerakan Kepanduan
mulai masuk pada tahun 1912, maka ditahun 2012 ini tepat 100 tahun masuknya
kepanduan di Indonesia. Maka kegiatan Pekan Budaya Ramadahan Kasultanan
Kacirebonan yang berlangsung dari tangga 4-5 Agustus 2012 dilaksanakan dalam memperingati moment tersebut.
Selain itu, menurut Kak Asep, bulan
ramadhan identik dengan liburnya kegiatan Pramuka. Padahal selama bulan
ramadhan anggota pramuka bisa lebih giat berlatih misalnya diisi dengan
pencapaian Syarat Kecakapan Khusus Qori, Sholat, muadzin dan lainnya.
“ Insya Allah kedepannya pengujian
Syarat Kecakapan Khusus ini akan kami masukkan sebagai salah satu bagian dari
acara Pekan Budaya Ramadhan Kasultanan Kacirebon tahun berikutnya “ lanjutnya
lagi.
Di wilayah Ciayumajakuning, banyak sekali Gugus Depan yang mengambil
nama-nama ambalan dari tokoh-tokoh kasultanan di Cirebon, diharapkan setelah
adanya pengenalan budaya melalui kegiatan ini. Gudep yang memakai nama-nama
tokoh di Cirebon dapat sowan ( berkunjung ) ke tempat-tempat bersejarah yang
berkaiatan dengan tokoh tersebut. Diharapkan dengan kegiaan ini akan menjadi
cikal bakal terbentukanya Saka Parawisata di Kwarcab Cirebon.
Tepat pukul 16.30 kegiatan Pekan
Budaya Ramadahan Keraton Kacirebonan dibuka oleh Sultan KGPH Abdulgani
Nata Diningrat Dekarangga yang lebih
akrab dipanggil Sultan Abdul Gani ditandai dengan penyematan tanda peserta.
Kemudian acara dilanjutkan dengan ramah tamah, buka puasa, shalat magrib dan,
isya serta taraweh bersama.
Keesokan harinya acara ditutup pukul
10.30 dengan penyematan TISKA ( tanda Ikut Seta Kegiatan ) kepada seluruh
peserta. **Raff
WORKSHOP JURNALISTIK DAN KEWIRAUSAHAAN
Sampai saat ini, media cetak dan elektronik merupakan
media yang paling efektif dan efisien dalam menyampaikan ilmu baru. Spektrum
sasaran yang luas dan mudah pendokumentasiannya, membuat dua jenis media
tersebut memiliki keunggulan dibanding dengan kegiatan-kegiatan ilmiah. Begitu
kuatnya kekuatan sebuah media. Dalam lingkup Gerakan Pramuka, kekuatan media
jelas dipengaruhi seberapa hebat lembaga pers yang menaunginya dan para
personal yang bertugas di dalamnya.
Mengingat Gerakan Pramuka adalah lembaga berskala
nasional bahkan internasional dengan anggota yang tersebar di seluruh wilayah
NKRI, maka diperlukan pembinaan khusus setiap jangka waktu tertentu guna menaikkan
kemampuan/skill anggota Pramuka itu sendiri. Tidak hanya dalam bidang tehnik
kepramukaan namun juga pengetahuan lainnya terutama dalam bidang penulisan dan
wira usaha.
Sementara ini kegiatan Pramuka hanya terpaku pada
kegiatan-kegiatan yang bersifat teoritis formal, keilmuan yang bersifat
aplikasi kurang begitu menonjol atau bahkan hanya sedikit mendapat sentuhan. Selain
itu banyak yang memandang bahwa kegiatan kepramukaan kurang tersentuh
kegiatan-kegiatan yang bersifat kewirausahaan yang lebih mengedepankan
kemandirian yang menjadi ciri khas Pramuka itu sendiri.
Dan pada akhirnya, demi mengakomodasi semua hal yang
telah tersebut di atas, Majalah Media Pramuka Kwartir Cabang Kuningan dan Gugus
Dharma Roverscout memandang perlu diadakannya sebuah workshop tentang
kejurnalistikan yang dilaksanakan bersama dengan motivasi kewirausahaan dan
buka puasa bersama.. “Semoga dengan adanya kegiatan semacam ini, proses
pendidikan kepada generasi muda untuk mengarahkan aktivitas mereka ke arah yang
lebih positif dapat ikut terbantu serta dapat terbentuk pencitraan pers Pramuka
yang lebih kompeten.”
Menurut AR Affandi, Ketua penyeleggara. Kegiatan ini
hanya embrio kecil untuk kegiatan sejenis yang lebih besar. Diawali dengan
Dewan Kerja Ranting Ciawigebang dan anggota Gugus Darma Roverscout sebagai
peserta, diharapkan nantinya Kwartir Cabang Kuningan khususnya bidang Bina Muda
dapat menyelenggarakan kegiatan ini dengan diikuti peserta dari anggota gerakan Pramuka Se-Kwarcab Kuningan.
Kegiatan workshop ini dilaksanakan pada tanggal 27 Juli
2012 bertempat di Raudlatul Athfal Al Ikhlas Desa Pasayangan Kecamatan Lebakwangi
diikuti oleh 30 orang peserta. Acara dimulai dengan pemberian materi tehnik
penulisan berita dan reportase yang disampaikan oleh Kak Jaenal Mutakin, S.Pd,
kemudian dilanjutkan dengan Tehnik Membuat Cerpen dan Puisi yang di sampakan
oleh Kak AR. Affandi.
Pada kesempatan pertama Kak Jaenal Mutakin, S.Pd yang
lebih dikenal dengan Kak Jeje menyampaikan bagaimana caranya membuat suatu
berita yang berpegang pada kaidah pokok pemberitaan 5W 1H. What, Where, When,
Why, Who dan How.
Sesi Kedua dilanjutkan dengan pembahasan cara membuat
Cerita pendek dan Puisi. Ka AR Affandi menampaikan bahwa untuk menulis sebuah
karya sastra bukanlah hal yang sulit. Remaja sekarang yang biasa menulis dibuku harian mempunyai
kesempatan untuk menjadi penulis besar. Sebab dengan menulis, kita bisa
menghargai perasaan kita dalam bentuk tulisan. Dengan mengasah pengetahuan
menulis, penguasaan pemilihan kata dan gaya bahasa. Hobi menulis di buku harian
tidak mustahil catatan harian kita bisa menjadi salah satu karya sastra terkenal.
Kemampuan menulis karya sastra pada satu sisi diyakini
sebagai sebuah bakat yang nota bene dibawa seseorang sejak lahir, namun pada
sisi lain diyakini sebagai sebuah hasil belajar. Dari berbagai sharing
pengalaman dari orang-orang yang sudah menghasilkan karya sastra, sebagian
besar di antaranya mengatakan bahwa kemampuan mereka lebih banyak ditentukan
oleh latihan, latihan, dan latihan. Kalau dibuat perbandingan, faktor bakat hanya memberikan kontribusi 10-15%,
sedangkan selebihnya adalah factor belajar dan latihan. Tuntutan yang diberikan
oleh kurikulum untuk siswa SMA sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun, tidak
ada salahnya jika kemampuan menulis cerpen yang akan dipelajari ini dapat
memberikan bekal hidup di kelak kemudian hari. Artinya, siapa tahu dengan
sungguh-sungguh belajar menulis cerpen, ketika menempuh pendidikan, para anggota Pramuka dapat ”nyambi” mencari uang saku melalui
cerpen. Di sela-sela belajar, mereka dapat menghasilkan cerpen yang kemudian
dikirim ke media massa, dan kalau dimuat akan mendapat uang saku. Dengan
demikian, generasi muda ini tidak seratus persen
bergantung pada orangtua mereka. Dengan kemandirian finansial seperti itu
proses hidup sebagai ”parasit” bagi orang lain dapat sesegera mungkin diakhiri.
Melihat
kesempatan peserta didik Pramuka untuk berwirausaha, Kak teguh Joko Pamungkas
sebagai pembicara terakhir memberikan rahasia-rahasia sukses sang maestro.
Beliau
menjelaskan bahwa kita adalah apa yang kita kerjakan bukan apa yang kita
hasilkan. Mencoba- dan terus mencoba hingga menemukan keberhasilan. Ia uga
mengingatkan bahwa keberhasilan itu adalah buah dari kegagalan. Seorang Albert Einstein baru bisa menemukan teori
relativitas pada percobaannya yang ke 100, itu artinya 99 kali ia telah
mengalami kegagalan. Bayangkan jika Einstein berhenti di percobaan 99, maka teori relativitas tidak akan ada
dimuka bumi ini.
Remaja
sekarang kadang selalu kalah oleh kegagalan, ia akan berhenti melangkah saat
apa yang ia kerjakan menemui kegagalan. Itulah yang disebut virus motivasi yang
bisa dicegah dengan adanya motivasi untuk berubah, membebaskan dari belenggu
nurani, dan menganggap semuanya bisa kita lakukan yang terbaik. Hal tersebut
tidak sempurna jika tidak diiringi dengan zero mind process. Jika kita ikhlas dan jernih (0) maka kita akan mendekati yang Maha Tak Terhingga yaitu Allah Kita tahu bahwa .Angka berapa pun kalau dibagi dengan 0
(nol) maka akan mendekati angka tak terhingga dan yang tak terhingga itu hanyalah Allah SWT.
Diakhir
pembicaraaanya Ka Teguh meminta kita bisa mengikuti filosofi air yang selalu
mencari jalan tanpa merusak dan punya tujuan, rendah hati dan mengalir ke
bawah.
Acara
kemudian dilanjutkan dengan iftor jamai dan taraweh bersama. Menurut Kak AR
Affandi hasil dari workshop ini diharapkan peserta dapat menghasilkan karya
yang bisa diikut sertakan pada lomba yang diselenggarakan oleh Kwartir nasional
dalam rangka memperingati 100 tahun masuknya Kepanduan di Indonesia.***Raff
Rabu, 25 Juli 2012
EVAKUASI KORBAN KECELAKAAN PESAWAT
Kuningan geger saat terjadinya kecelakaan jatuhnya pesawat di pinggir Sungai Cibatu Desa Sukadana Dusun Patapan Blok Pahing Kecamatan Ciawi Gebang Kabupaten Kuningan, Senin (02/07/2012) sekitar pukul 14.45 WIB. Tim Media Pramuka yang mendengar berita itu langsung mengkontak beberapa anggota Pramuka dari Satuan Karya Bhayangkara, anggota RoverScout dan pengurus Kwartir Ranting Ciawigebang dan langsung meluncur menuju Tempat Lokasi kejadian.
Dusun Patapan adalah dusun terpencil di Desa Sukadana, berjarak sekitar ± 15 km ke arah utara dari pusat kecamatan Ciawigebang. Untuk menuju kesana dibutuhkan mental dan kendaraan yang cukup handal karena medan jalan yang sempit, berliku dan berbatu terbentang didepan mata. Namun rintangan itu tidak menyurutkan niat ratusan orang untuk melihat lokasi kejadian.
Saat tiba di lokasi, tim Media Pramuka langsung ikut mengevakuasi korban. Akibat kecelakaan tersebut Heru Fachrudin (44), warga Sidoarjo Jawa Timur yang merupakan instruktur pilot pesawat bernomor register PK-HL tersebut tewas di tempat. Sedangkan dua siswi penerbangan, yakni Rara Paramitha (27) asal Tangerang dan Nurfitriani Fatimah (20) asal Jakarta kritis dan dilarikan ke RSUD Kusuma Wijaya Kuningan.
Menurut keterangan saksi mata, sebelum jatuh dan terbelah menjadi dua, pesawat sempat terbang rendah dan menabrak kabel listrik di areal pemukiman yang terpencil tersebut.
"Sebelum jatuh, pesawat sempat menabrak kabel listrik dan jatuh di pinggir kali," kata Mod (55) seorang petani di Dusun Patapan Desa Sukadana.
Pada saat ekor pesawat menabrak kabel listrik, Mod mengaku hanya berjarak sekitar 20 meter dari pesawat tersebut. Selanjutnya pesawat jatuh di pinggir sungai sekitar 400 meter dari posisi dia.
Melihat kejadian itu, dia langsung melaporkan ke perangkat desa setempat dan tidak lama kemudian petugas dari Polsek Ciawi Gebang dan Polres Kuningan datang ke lokasi untuk mengevakuasi para korban.
Kapolres Kuningan AKBP Wahyo Bintono HB mengatakan pihaknya menerima informasi jatuhnya Pesawat latih Jenis Cesna-PKHL ALFA 5 milik Aero Flayer Institute (AFI) sekitar pukul 15.00 WIB.
"Akibat kejadian tersebut instruktur pilot tewas di tempat sedangkan dua siswi penerbangan yang tengah melakukan latihan rutin, mengalami luka berat," kata Wahyu saat ditemui di lokasi jatuhnya pesawat, Senin (02/07/2012) petang.
Menurut keterangan warga lainnya, di dusun Patapan sering terlihat pesawat latih jenis Cessna terbang rendah dan melakukan manuver melewati kabel listrik, dan biasanya mereka berhasil melakukan manuver tersebut. Bahkan saat tiang penyangga kabel terseret arus sungai, pesawat latih tersebut masih sanggup bermanuver melewati kabel listrik tersebut. Namun naas, saat itu pesawat menabrak kabel listrik dan langsung terhempas ke tanah.
"Kami tidak tahu persis apa yang menjadi penyebab pesawat tersebut jatuh, sedangkan Kepala Bandara sedang tidak ada," kata salah seorang staf Bandara Penggung, Cirebon yang keberatan disebutkan jati dirinya.
Diperoleh keterangan, pesawat latih yang take off dari Bandara Penggung Cirebon itu kehilangan kontak sekitar pukul 15.15 WIB.
Sementara itu, Ilka Marciana, teman kedua siswi penerbang yang terluka mengatakan keduanya baru datang. "Ketika saya turun, mereka berangkat," kata Ilka singkat.
Informasi lain menyebutkan, salah seorang di antara mereka sempat kontak sedang berada di daerah Losari, namun, tidak sampai-sampai. Namun, ketika salah satu telefon genggam dihubungi ternyata yang mengangkat masyarakat yang memberitahu pesawat yang ditumpangi mereka jatuh.
Hingga Pukul 19.30 masyarakat masih terus berdatangan menuju lokasi, sementara Tim Media Pramuka setelah membantu pendirian tenda POSKO memutuskan untuk kembali dengan berjalan kaki menuju desa Suka Dana. Semoga tak lagi terjadi kecelakaan pesawat terbang yang kian hari kian sering terjadi.
ROAD SHOW PBB TONGKAT DAN SAKA WIRAKARTIKA KWARCAB KUNINGAN “MEMBIASAKAN HAL YANG BENAR BUKAN MEMBENARKAN KEBIASAAN”
Banyak diantara para Pembina
Pramuka yang berselisih pendapat tentang Peraturan Baris Berbaris. Hal ini
disebabkan karena minimnya informasi yang diterima, atau kalau pun ada,
informasi tersebut tidak jelas sumber bakunya.
Sebagai dampaknya, peserta
didik mengalami keragu-raguan dalam
berbaris, jika mereka saling bertemu pada suatu ajang yang melibatkan banyak
peserta didik anggota Pramuka.
Padahal kita semua mengetahui,
bahwa baris berbaris dalam Kepramukaan merupakan ikon kegiatan bahkan simbol keterampilan anggota pramuka.
Pendidikan disiplin seorang anggota pramuka dapat dimulai dari berlatih baris
berbaris. seorang anggota pramuka yang sudah matang dalam menerapkan Peraturan
Baris Berbaris, maka dipercaya akan mempengaruhi disiplin dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.
Peraturan Baris Berbaris yang digunakan di
lingkungan Pramuka ada dua macam yakni baris berbaris menggunakan tongkat dan
tanpa tongkat. Untuk baris berbaris menggunakan tongkat memiliki tata cara
tersendiri di lingkungan Pramuka.
Atas dasar itulah Satuan Karya Wira Kartika
menyelenggarakan sebuah program Road Show
mengunjungi Gugus Depan untuk
mensosialisasikan bagaimana cara Baris berbaris dengan menggunakan tongkat
sesuai dengan aturan.
“Baris berbaris adalah suatu wujud latihan
fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang
diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu. Jadi jika peraturan baris
berbaris tidak mengikuti tata cara yang sesuai dengan aturan yang berlaku maka teaching point dari pelaksanaan kegiatan
ini tidak akan mencapai sasaran yang tepat. Peserta didik juga akan terbiasa
mengikuti kebiasaan yang kurang tepat “ ujar
Kak Toto Mardianto Pamong Saka Wira Kartika sekaligus Wakil Andalan
Urusan Saka Kwarcab Kuningan di sela- sela kegiatan Road Show.
Selain mensosialisasikan PBB
Tongkat kegiatan Road Show ini juga
sekaligus mengenalkan Saka Wira Kartika
yang berada dibawah binaan TNI Angkatan Darat. Rintisannya mulai
dilaksanakan pada akhir tahun 2007. Pembentukannya berdasarkan Peraturan bersama Kepala Staf Angkatan Darat dengan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka nomor 182/X/2007 dan 199 tahun 2007 tanggal 28 Oktober 2007 tentang kerjasama dalam usaha pembina dan pengembangan pendidikan bela negara dan kepramukaan. Pengoraganisasian Saka binaan TNI AD ini, tidaklah jauh berbeda dengan
Satuan Karya pada umumnya. Namun Demikian
Saka Wira Kartika ini memiliki Program Pendidikan yang dibentuk dalam Satuan Krida antara Lain :
1.
Krida
Survival
2.
Krida Pioner
3.
Krida
Mountainering
4.
Krida
Navigasi Darat
5.
Krida
Bintal Juang (penanggulangan bencana
alam/PBA)
Sementara ini Kegiatan Saka Wira Kartika di Kuningan masih terpusat di Gudep Teritorial 01.053-01.054 Kwartir Ranting Kadugede, Koramil 1502 . Gudep Teritorial 01.053-01.054 adalah Gudep yang secara dinas menjadi tanggung jawab Kodim tapi kendali kepramukaan menjadi tanggung jawab Kwartir Ranting.
Kegiatan Road Show sudah berlangsung dari bulan Mei-Juni 2012 sebelum dan setelah Ujian Akhir Semester Genap. Beberapa Gudep yang berada di Pangkalan MTs Darma, SMAN Cibingbin, SMAN Garawangi, SMPN 1 Kadugede, telah dikunjungi dan mendapatkan respon positif dari peserta didik Pramuka.
Untuk wilayah Kwartir Ranting Ciawigebang, pada tanggal 17 Juni 2012 Road Show dilaksanakan di SMKN 5 Kuningan dan dihadiri oleh Dewan Penegak dari Pangkalan SMAN Ciawigebang, SMKN 5 Kuningan, MAN Ciawigebang, SMK PGRI Ciawigebang, Ponpes Putra Al-Ikhlas Ciawilor Ciawigebang.
Kak Tri Pujiantoro sebagai Mabiran Ciawigebang menyambut positif kegiatan ini, “Gerakan Pramuka menyelenggarakan upaya pendidikan bagi kaum muda melalui kepramukaan, dengan sasaran meningkatkan sumber daya kaum muda, mewujudkan masyarakat madani, dan melesatarikan keutuhan Negara NKRI yang ber-BhinekaTunggal Ika, ideologi Pancasila, kehidupan rakyat yang rukun dan damai, serta lingkungan hidup di bumi nusantara.", ucap beliau dalam sambutannya saat membuka kegiatan Roadshow di Kwarran Ciawigebang.
Kak Tri sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, beliau setia mendampingi Para Pamong Saka yang mendemonstrasikan PBB Tongkat kepada peserta didik.
Rabu, 02 Mei 2012
AD ART Gerakan Pramuka 2012
Berdasarkan hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa
Gerakan Pramuka tahun 2012 yang dilaksanakan pada tanggal 28 – 29 April 2012
bertempat di Komplek Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, telah
dihasilkan beberapa rekomendasi sebagai berikut :
1. Bahwa Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga hasil Munaslub agar ditetapkan dengan Peraturan Presiden tentang
pengesahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
2. Untuk menunjang tugas yang
diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 diusulkan dalam Peraturan
Presiden yang akan dikeluarkan dicantumkan bantuan dana melalui anggaran
APBN/APBD minimal sebesar 10% dari anggaran pendidikan.
3. Untuk kelancaran pelaksanaan
tugas yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 diusulkan dalam
perpres yang akan dikeluarkan dicantumkan bantuan anggaran APBN/APBD disalurkan
langsung kepada kwartir.
4. Untuk memperkuat persatuan dan
kesatuan NKRI yang menjadi nafas utama Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010
diusulkan dalam Peraturan Presiden yang akan dikeluarkan dicantumkan himbauan
kepada semua perkumpulan kepanduan di luar Gerakan Pramuka untuk bergabung
dalam Satuan Komunitas Pramuka.
5. Dalam rangka menjaga aset tidak
bergerak Gerakan Pramuka khususnya Taman Rekreasi Wiladatika (TRW) maka kepada
Kwartir Nasional agar melengkapi perjanjian pengembangan TRW dengan kajian
aspek yuridis, historis, ekonomis, sosiologis dengan memperhatikan AD/ART hasil
Munaslub tahun 2012.
6. Kwartir agar melakukan
optimalisasi pengelolaan aset di seluruh tingkatan Gerakan Pramuka.
7. Agar Kwarnas memberikan
perlindungan hak atas kekayaan intelektual.
8. Dalam rangka percepatan informasi
hasil Munaslub agar segera dilakukan sosialisasi sampai ke seluruh jajaran
gerakan pramuka.
9. Untuk membangun kompetensi,
kerjasama, dan kebersamaan diperlukan Korps Pelatih pada tingkat Cabang, Daerah
dan Nasional.
10. Dengan banyaknya Perguruan
Tinggi terutama pada FKIP yang melaksanakan mata kuliah Kepramukaan agar
Kwarnas Gerakan Pramuka bekerjasama dengan Kemendikbud (Dirjen Dikti) untuk
menyusun kurikulum mata kuliah Kepramukaan tersebut.
11. Akan membentuk tim kecil untuk
mengharmonisasikan pasal-pasal dalam AD/ART dan memperbaiki salah ketik
konsistensi isi AD/ART.
Jakarta, 29 April 2012
Presidium Munaslub Gerakan Pramuka Tahun 2012
1.Dr. Noor Bahry Noer,
Msc
Kwarnas
ketua,
(............................)
2.Ir. Amir Kedang,
Msi
Kwarda
NTT
Sekretaris, (............................)
3.Azhari
Basar
Kwarda Aceh
Anggota, (............................)
4.Drs. H.AR. Purmadi, SH
Kwarda Jatim
Anggota, (............................)
5.Dr. H.Sigit Muryono, M.Pd
Kwarda Kaltim Anggota,
(............................)
ANGGARAN DASAR DAN RUMAH TANGGA GERAKAN PRAMUKA HASIL MUNASLUB 2012 DAPAT DIUNDUH DISINI
Langganan:
Postingan (Atom)







